Dinas Kesehatan Barito Utara Temukan 227 Kasus TBC

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (PSDK) Yessi Aria Puspita, SKM, M.Kes, foto bersama peserta Monitoring dan Evaluasi Program Tuberkulosis Tahun 2025, di Aula Dinas Kesehatan setempat, pekan lalu (foto:istimewa)

MUARA TEWEH, NK.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara menemukan sebanyak 227 kasus penyakit Tuberkulosis (TBC) di daerah setempat
<span;>Hal tersebut diungkapkan <span;>Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara Pariadi AR melalui Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (PSDK) Yessi Aria Puspita, SKM, M.Kes, saat membuka<span;> Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Program Tuberkulosis Tahun 2025, di Aula Dinas Kesehatan setempat, pekan lalu
Pertemuan ini dihadiri para Kepala Bidang, Kepala Sub Bagian Kepegawaian, Kepala Sub Bagian Perencanaan dan Informasi Kesehatan (PIH), serta perwakilan Puskesmas dan RSUD se-Kabupaten Barito Utara.
“Di Barito Utara, tercatat sebanyak 227 kasus TBC yang ditemukan dan telah menjalani pengobatan pada tahun 2025,” katanya
Namun, lanjutnya, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti belum optimalnya investigasi kontak, rendahnya cakupan Terapi Pencegahan TBC (TPT), serta keterlambatan dalam pencatatan dan pelaporan kasus.
“Masih ada gap antara temuan kasus dan jumlah pasien yang memulai pengobatan. Oleh karena itu, kegiatan monitoring dan evaluasi ini sangat penting untuk mengidentifikasi kendala dan mencari solusi yang tepat di tingkat Puskesmas maupun RSUD,” jelas Yessi.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait terapi pencegahan. Banyak individu yang menolak TPT karena merasa sehat, padahal mereka memiliki riwayat kontak erat dengan penderita TBC.
“Promosi kesehatan harus ditingkatkan agar cakupan TPT di Barito Utara bisa lebih optimal,” katanya.
Menurutnya, di Indonesia saat ini masih menjadi negara dengan kasus TBC terbanyak kedua di dunia.
“Setiap jam, 14 orang meninggal akibat TBC di Indonesia. Ini adalah ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, kita harus memperkuat strategi dari tingkat fasilitas kesehatan hingga peran lintas sektor,” tegas Yessi.
Ia menambahkan, target nasional eliminasi TBC tahun 2025 mencakup 90 persen deteksi kasus, 100 persen inisiasi pengobatan, dan keberhasilan pengobatan di atas 80 persen. Untuk mencapainya, diperlukan sinergi antara faskes, masyarakat, dan komunitas.
“Komunitas memiliki peran besar dalam investigasi kontak, skrining kelompok berisiko, serta pendampingan dan monitoring pengobatan. Ini perlu kita dukung penuh,” ujarnya. rey

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *